Masjid Kotagede, Masjid Tertua Di Yogyakarta

Masjid Agung Kotagede merupakan salah bangunan  masjid yang tertua di Kota Yogyakarta. Bangunan ini merupakan salah satu masjid peninggalan Mataram yang mana samapi sekarang masih bisa dilihat dan juga masih bisa dipakai sebagaimana fungsinya .

Asal muasal kisah tentang Masjid agung kotaGede dalam kerjaan Mataram ini setidaknya terjadi ketika Ki Ageng Pemanahan membuka alas atau hutan Mentaok yang kala itu berada di Kotagede. Beliau berniat membangun sebuah pemukiman yang kelak berfungsi sebagai pusat pemerintahan kerajaan. Maka,Masjid Agung Kotagede pun ini akhirnya didirikan dan selesai dibangun pada 1589 atau pada akhir abad ke-16.

Masjid Kotagede, Masjid Tertua Di Yogyakarta

Di kotagede Yogyakarta memang terdapat banyak sekali peninggalan bersejarah yang menyimpan segala macam data serta informasi pada masa kerajaan Mataram kuno. Masjid Agung Kotagede ini merupakan salah satu tempat paling bersejarah yang ada di kota Yogyakrta yang mana masjid ini dibangun pada zaman kerajaan Mataram pada tahun 1640 oleh Sultan Agung yang mana dahulunya belaiu ini bergotong-royong dengan masyarakat setempat yang pada umumnya waktu itu beragama Hindu dan Budha.

Baca Juga: Pesona Islami Masjid An’nur Kota Batu

Setapak kaki ketika anda melangkah memasuki halaman awal pada Masjid,maka anda akan mendapati sebuah pohon beringin yang usianya sudah ratusan tahun yang mempunyai nama Wringin Sepuh, Pohon beringin tersebut oleh masyarakat sekitar dianggap keramat dan diyakini membawa keberkahan tersendiri bagi siapa saja yang mau bertapa di bawah pohon tersebut.

Disekitar pohon tersebut juga terdapat sebuah kolong parit yang mengelilingi Masjid Kotagede itu. Parit tersebut dahulunya pernah dipakai untuk tempat berwudhu,namun akan tetapi sekarang ini hanya dipergunakan sebagai sarana usaha tambak ikan.

Masjid Kotagede Yogyakarta merupakan masjid yang sudah berusia ratusan tahun dan di dalam masjid ini juga memiliki sebuah prasasti yang mana pernah disebutkan bahwa Masjid tersebut dibuat dalam dua sesi tahap.

Tahap pertama adalah ketika masjid ini dibangun pada masa kerajaan Sultan Agung yang mana beliau secara spesifik berhasil membangun inti masjid yang dahulunya berukuran kecil yang disebut dengan langgar. Lalu lanjut ke Tahap kedua bahwa masjid ini dibangun oleh Raja Kasunanan Surakarta,Paku Buwono X. Namun,terdapat sebuah perbedaan pada bangunan masjid tersebut yang mana kala itu telah dibangun oleh Sultan Agung dan juga Paku Buwono X pada tiangnya. Tiang masjid yang dibangun Sultan Agung berasal dari kayu Jati, sedangkan tiang yang dibangun oleh Paku Buwono X dibuat dengan bahan dari besi.

Masjid KotaGede hingga sampai saat ini masih tetap dipakai untuk tempat beribadah umat Islam bagi warga setempat. Serta pada bangunan tersebut juga merupakan salah satu bentuk toleransi antar umat beragama pada waktu itu.

Maka,sebagian besar waktu itu warga sekitar area Masjid kotagede masih memeluk agama Hindu dan juga Budha dan dengan senang hati mereka pun ikut membantu dalam pembangunan masjid tersebut. Ciri khas budaya dalam ajaran Hindu dan Budha terlihat dari sebuah tiang yang terbuat dari bahan kayu jati yang mana kala itu dibangun pada masa pemerintahan Sultan Agung yaitu gapura masjid yang berbentuk Paduraksa.

Gapura yang berbentuk paduraksa ini merupakan sebuah gapura yang sangat Persis dengan gapura yang ada di bagian candi Prambanan,dan berada persis di depan gapura,maka anda pun akan menemukan sebuah tembok berbentuk huruf L. Pada tembok itu terpahat beberapa gambar yang merupakan lambang kerajaan. Bentuk paduraksa dan juga sebuah tembok besar dengan model huruf L itu adalah wujud toleransi Sultan Agung pada warga yang ikut membangun masjid yang masih memeluk agama Hindu dan Budha.

Bangunan masjid tersebut mempunyai bentuk seperti limasan yang mana dapat dilihat dari atapnya yang berbentuk limas dan juga ruangannya  terbagi menjadi dua, yaitu inti dan juga serambi. Masjid ini terdapat sebuah bedug yang konon bedug ini mempunyai usia cukup tua yang mana dahulu kala merupakan hadiah dari Nyai Pringgit dan sampai sekarang ini bedug tersebut masih bisa dipakai sebagai penanda waktu untuk berdoa.

Di dalam masjid agung kotagede ini juga terdapat sebuah mimbar yang mana mimbar tersebut sempat dipakai untuk berkhotbah oleh Sultan Agung,mimbar tersebut merupakan mimbar yang terbuat dari  bahan kayu jati yang telah di ukir yang mana semuanya ini merupakan hadiah dari Sultan Palembang kepada Sultan Agung, namun akan tetapi mimbar ini sekarang sudah tidak dipergunakan lagi.

Setelah Memasuki halaman masjid, akan ditemui sebuah prasasti yang berwarna hijau. Prasasti yang mempunyai tinggi sekitar 3 meter itu merupakan pertanda bahwa Paku Buwono pernah merenovasi masjid ini. Bagian utama dari prasasti ini dominan berbentuk bujur sangkar dan pada bagian puncaknya terdapat sebuah mahkota lambang Kasunanan surakarta. Sebuah jam diletakkan di sisi selatan prasasti sebagai acuan waktu sholat.

Selanjutnya jika wisatawan berjalan ke halaman utama sebuah masjid maka anda akan dapat menjumpai adanya perbedaan tembok pada sebelah kiri halaman masjid. Tembok pada bagian sisi sebelah kiri akan terlihat tersusun rapi dari bahan batu bata merah yang mana mempunyai ukuran yang jauh lebih besar dibandingkan dengan warna merah tua dan semua itu terdapat di sebuah batu seperti marmer yang permukaanya ditulis aksara jawa.

Sedangkan bagian tembok yang lain memiliki batu-bata yang mempunyai ukuran jauh lebih kecil dan mempunyai warna merah muda dan sedikit polos. Ternyata usut punya usut bahwa bangunan tembok yang berada di sisi sebelah kiri ini dibangun ketika masa kerajaan dipimpin oleh Sultan Agung, sementara tembok yang lain merupakan hasil renovasi dari Paku Buwono X. Tembok yang dahulunya dibangun pada masa Sultan agung ini ternyata berperekat campuran antara airjernih dengan air aren yangmana kala itu dapat membatu bangunan sehingga lebih kuat dan kokoh.

Akses

Dari pasar kotagede Masjid ini tidak terlalu jauh. Untuk mencapai Masjid ini anda hanya perlu bersabar sejenak,hal ini dikarenakan ketika melewati depan pasar Kotagede, lalu lintas selalu ramai dan macet. Para wisatawan ini bisa saja langsung mengambil jalan sebelah barat pasar, dan setelah itu lurus mengikuti arah jalan ke Watu Gilang yakni  ke arah selatan sampai akhirnya menemukan sebuah papan kayu dengan nama Masjid Agung Kotagede dan juga makam Raja Mataram Kotagede.

Harga Tiket

Untuk mengunjungi Masjid Agung Kotagede ini sebenarnya tidak dipungut biaya sepeser pun,hal ini di karenakan bahwa Masjid merupakan tempat beribadah bagi umat Islam, jadi kapanpun anda bisa menggunakan Masjid tersebut sewaktu waktu untuk keperluan beribadah. Anda pun mungkin akan dikenakan biaya sedikit untuk ongkos parkir kendaraan sebesar Rp.1.000,- berlaku untuk parkir motor dan Rp.2.000,- untuk parkir mobil.

Fasilitas

Tak hanya melihat keindahan dan juga merasakan sejarah Masjid Agung Kotagede ini saja,namun pengunjung juga dapat sekalian menyusuri sejarah tentang kerajaan Mataram lama yang mana semuanya itu terdapat tidak jauh dari tempat tersebut. Pasar Kotagede ini merupakan salah satu ikon yang menjadi tujuan kedua setelah dari Masjid Agung Kotagede dan berziarah ke Makam Raja Mataram.

Masjid yang usianya telah ratusan tahun itu hingga kini masih terlihat hidup. Warga setempat masih menggunakannya sebagai tempat melaksanakan kegiatan keagamaan. Bila datang saat waktu sholat, akan dilihat puluhan warga menunaikan ibadah. Di luar waktu sholat, banyak warga yang menggunakan masjid untuk tempat berkomunikasi, belajar Al Qur’an, dan lain-lain.

Leave a reply

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>