Keren Nih Ketidaksengajaan yang membuahkan hasil

Keripik singkong, siapa yang tidak mengenal jajanan legendaris satu ini. Ya, di Desa Purwokerto, Ngadiluwih Kabupaten Kediri juga memiliki rumah produksi kudapan satu ini. Zainul Ihksan, mulai memproduksi keripik singkongnya sejak 2010 silam. Tgepat dirumahnya ia memproduksi keripi bersama istri dan kedua karyawannya.

“Anak saya ikut pelatihan dulu, lalu berani produksi sendiri,” ujar Alfiyah, ibu Zainul. Alfiyah menyadari ketangguhan anaknya dalam memproduksi  aneka keripik. Keripik singkong, keripik gothe, keripik ubi ungu hingga kripi tales. Dalam waktu datu minggu, Zainul mampu melakukan 4 kali produksi dibantu dengan dua karyawannya. Yang juga warga setempat.

Baca juga nih Cara Memberi Makan Ikan Koi

Produksi aneka keripik ini dilakukan di dapur seluas 3×7 meter, digoreng dalam wajan berukuran besar di tungku kuno. Terlihat pula tumpukan kayu yang digunakan sebagai bahan bakar tungku dalam memasak keripik singkong.

Siapa sangka, olahan keripik ini sudah terjual hingga swalayan Golden, diberi label keripik cap Mr. Inul. Potongan nama dari Zainul, membuat produk asli Dusun Selomangen Desa Purwokerto ini makin dikenal hingga Tulungagung. “Nggak Cuma macam keripiknya, tapi juga rasa dari keripik singkongnya,” imbuhnya. Balado, manis, gurih dan original. Produknya kini tidak hanya terjual di swalayan saja, melainakan juga dijual menggunakan rombong dan dipasarkan secara keliling.

Untuk bahan bakunya, Zainul tidak mengalami kesulitan. Ia cukup berbelanja di pasar Grosir sayur maupun pasar tradisional. Untuk sekali produksi, ia mampu menghabiskan singkong hingga satu kwintal. “Kalau ada pesanan bisa lebih, dan kadang tenaga yang mengerjakan juga kurang,” papar Alfiyah.

Diakuinya pula bila anaknya menggeluti bisnis makanan ringan ini karena permintan pasar terus ada. Selain itu, olahan rumahan ini juga kerap dikonsumsi oleh keluarga dan warga setempat. Sehingga semangatnya dalam menjalani bisnis rumahan terus berjalan. Apalagi didukung pemdes untuk unsur pemberdayaan hingga pengenalan produk melalui pameran.

“Ini hasil dari pelatihan yang difasilitasi desa. Sekarang sudah mandiri dan berkembang,” pungkas Much. Syahroni, Kaur Umum Desa Purwokerto. (rie)

Leave a reply

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>